Ribuan Penduduk DKI Jakarta Belum Punya Septic Tank

Liputan6.com, Jakarta Salah satu permasalahan sanitasi yang ada di ibu kota adalah ratusan ribu penduduk Jakarta masih belum punya septic tank. Perilaku buang air besar (BAB) sembarangan masih dilakukan warga.

Sungai menjadi salah satu lokasi warga BAB sembarangan. Padahal, sungai juga sebagai salah satu andalah warga ibu kota untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Dalam panel diskusi bertajuk ‘Berkolaborasi Menuju Sanitasi Jakarta Sehat’ pada 16 Januari 2019, Deputi Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Oswar Muadzin Mungkasa mengungkapkan, jumlah penduduk ibu kota yang tidak mempunyai tangki septik (septic tank) mencapai setidaknya 475 ribu jiwa atau 117 ribu Kepala Keluarga (KK).

“Tidak punya septic tank turut berdampak pada tercemarnya sungai di Jakarta. Sungai tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai sumber air bersih,” jelas Oswar, sesuai rilis yang diterima Health Liputan6.com, Senin, 21 Januari 2019.

Selain itu, jamban dalam kategori layak digunakan dan dimiliki warga Jakarta hanya  mencapai 63,55 persen.

Simak video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Target bebas praktik BAB sembarangan

Warga memandikan anaknya di bantaran Kali Ciliwung, Jakarta, Senin (19/11). Saat ini, tercatat sekitar 500 ribu penduduk DKI Jakarta tidak memiliki akses sanitasi yang layak. (Merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya mempercepat pencapaian target Jakarta 100 persen bebas dari praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Sebagai langkah awal, Pemprov DKI Jakarta akan mengaktifkan Forum Air dan Sanitasi sebagai wadah untuk bertukar pikiran dan pengalaman antar pemangku kepentingan. 

Program tersebut hasil kerjasama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas dan sejumlah organisasi lain melalui program SIMASKOTA.

“Program SIMASKOTA adalah upaya kami meningkatkan akses sanitasi layak, dengan mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, LSM, dan pihak swasta. Kami percaya kolaborasi multipihak adalah kunci untuk mewujudkan target Jakarta 100 persen bebas praktik BABS,” Oswar melanjutkan.

Program SIMASKOTA juga menggandeng konsorsium SPEAK Indonesia, Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika (USAID) serta Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) sebagai pelaksana lapangan.

Area yang menjadi sasaran intervensi program ini mencakup Kelurahan Tebet Timur, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, serta Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.