Awal 2019, Jumlah Pasien DBD di RS Hasan Sadikin Meningkat

Liputan6.com, BandungA Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menyatakan, jumlah kasus pasien penyakit demam berdarah dengue (DBD) di awal tahun 2019 mengalami peningkatan. Hal itu terlihat dari perbandingan data pada 2018 yang tiap bulannya berada di kisaran 8-11 pasien, sementara kini–sampai 24 Januari 2019–jumlah pasien DBD mencapai lebih dari 53 orang.

Menurut Kepala Divisi Anak KSM Ilmu Kesehatan Anak RSHS Djatnika Setiabudi, dari 53 pasien DBD tersebut sudah ada yang dipulangkan usai melalui perawatan selama tujuh hari. Namun, ada pula yang hanya tiga hari dirawat langsung dipulangkan.

“Lonjakan ini penyebabnya terutama musim hujan karena nyamuk aedes aegypti sebagai penular penyakit ini sangat senang sekali dengan kondisi sekarang. Dengan kelembapan seperti ini, nyamuk itu paling enak untuk berkembang biak dan lain sebagainya. Kedua, tentu saja dengan masa awal musim hujan yang kadang-kadang hujan, kadang-kadang tidak memberi kesempatan air hujan tertampung,” kata Djatnika dalam siaran persnya, Bandung, Jumat 25 Januari 2019.

Djatnika menyebutkan, biasanya air hujan yang turun tertampung di bekas kemasan air mineral, batok kelapa, kaleng cat bekas yang potensial menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Berbeda halnya jika hujan turun lebat, kemungkinan air tertampung sangat kecil dan minim menjadi sarang nyamuk.

Jika dilihat dari asal domisili pasien DBD yang dirawat di RSHS, hampir seluruh daerah di Bandung Raya yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi terjadi penampungan air hujan yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk, Djatnika mengungkapkan. Namun ada juga pasien yang berdomisili di daerah Kabupaten Sumedang.

“Sebetulnya penanganan penyakit DBD itu asal datang awal ke rumah sakit sehingga cepat mendapat infus dan penurun demam maka akan segera tertangani,” ujar Djatnika.

Pemberian infus itu berguna sebagai cairan pengganti kebocoran pembuluh darah di tubuh pasien DBD. Sementara demam tinggi akan secara bertahap turun saat obat penurun demam dikonsumsi. 

Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 2 halaman

Masyarakat Harus Mengenali Gejala DBD

Djatnika mengimbau masyarakat agar mengetahui pula soal gejala penyakit DBD. Gejala secara umum penyakit DBD adalah demam tinggi yang terus-menerus selama 2-7 hari atau lewat lebih dari 24 jam, ditambah mual, muntah, nyeri di perut dan tidak dibarengi dengan penyakit lain.

“Untuk dewasa dominan gejalanya adalah demam, lemas, nyeri kepala dan badan, pegal, tapi tidak ada batuk hati – hati saja. Kalau lewat dari 2×24 jam segera ke dokter atau ke fasilitas kesehatan untuk memeriksa contoh darah,” jelas Djatnika.

Pemeriksaan contoh darah pasien darah itu untuk mengetahui kekentalan darah (hematrokrit). Namun, sebagian masyarakat seringkali salah menilai bahwa indikasi hasil tes contoh darah dilihat dari jumlah trombosit.

Djatnika mencontohkan apabila jumlah trombosit mencapai 20.000 tetapi tidak ada pendaharan maka tidak akan dilakukan perawatan intensif. Jika terdapat pendarahan di pembuluh darah maka perawatan sesuai standar DBD segera dilakukan.

“Tingkat keparahan pendarahan pasien DBD itu bisa menjadi tolok ukur seberapa banyak jumlah cairan pengganti yang harus disiapkan dan harus seberapa sering diperiksa contoh darahnya. Karena kadang – kadang ada yang 6 jam sekali diperiksa darahnya,” jelas Djatnika.

Agar tidak menjadi penyakit yang berat, penanganan awal seperti pemberian air minum yang banyak harus dilakukan. Gunanya untuk mempercepat turunnya suhu badan akibat demam, tetapi jika sudah gawat dianjurkan segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit. (Arie Nugraha)