64 ASN KKP Kelas I Makassar Jalani Tes Kebugaran, Begini Hasilnya

Liputan6.com, Jakarta Sebanyak 64 orang aparatur sipil negara (ASN) di lingkup Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) kelas I Makassar melakukan pengukuran kebugaran. 

Kegiatan di dalam rangkaian bulan K3 yang diperingati selama satu bulan, dari 12 Januari sampai 12 Februari 2019 ini dilakukan di seputar KKP kelas I Makassar, jalan By Pass Bandara International Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, pada Jumat, 18 Januari 2019.

Pengukuran kebugaran puluhan ASN tersebut menggunakan metode Rockpot, dengan lari atau jalan sejauh 1.600 meter. Tujuannya, guna mengetahui tingkat kebugaran jantung dan paru dari masing-masing individu, berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur.

Mengutip sebuah teori tentang kebugaran, Kepala KKP kelas I Makassar, dr Darmawali Handoko M.Epid, mengatakan, seseorang dapat dikatakan bugar fisiknya, jika mampu melakukan tugas sehari-hari secara efisien, tanpa timbul kewalahan yang berlebihan. 

“Sehingga orang-orang tersebut masih dapat menikmati waktu luangnya,” kata Darmawali seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Sabtu, 19 Januari 2019. 

Sebelum pengukuran dengan metode Rockport, terang Darmawali, terlebih dulu dilakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan, seperti deteksi dini penyakit tidak menular (PTM), deteksi dini Tuberculosis (TB), dan voluntary counselling and testing (VCT) mobile sebagai kegiatan evaluasi atau pemeriksaan pada tahun lalu.

2 dari 3 halaman

Tata Cara Pengukuran Menggunakan Metode Rockpot

Saat melakukan pemeriksaan kebugaran menggunakan metode Rockpot, seluruh peserta diberikan “Kartu Menuju Bugar” yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Sebelum diukur, peserta mendaftar untuk diperiksa kesehatan secara umum dan mengisi kuesioner kesiapan aktivitas fisik (Physical Activity Readiness Questionnaire atau PARQ).

Peserta yang disetujui mengikuti uji Rockport dibagi per kelompok terdiri dari 10 orang, diberikan nomor dada dan melakukan peregangan kemudian melakukan tes.

Selama pelaksanaan kegiatan mendapat pengawasan langsung dari tim emergency KKP kelas I Makassar.

Mengacu pada buku Petunjuk Teknis Pengukuran Kebugaran Jasmani yang diterbitkan Kemenkes RI pada 2005, setelah peserta menempuh jarak yang sudah ditetapkan, panitia akan mencatat waktu tempuh guna mendapatkan nilai VO2mac.

Dari VO2max yang diperoleh, kemudian dikonversikan untuk klasifkasi kebugaran peserta.

“Hasil pengukuran kebugaran menunjukkan kenaikan tahun sebelumnya dari 64{c661a3a793af82de9752615c87ad216872247a518df3a07bcfea2ed4a957b969} kategori cukup pada 2018 menjadi 71{c661a3a793af82de9752615c87ad216872247a518df3a07bcfea2ed4a957b969} kategori cukup tahun 2019,” kata Darmawali

3 dari 3 halaman

KKP kelas I Makassar

Darmawali, melanjutkan, sebenarnya ‘kebugaran’ sendiri telah diisyaratkan dalam pengumuman penerimaan CPNS Kemenkes di lingkup KKP.

Selain bersedia bekerja dalam sistem shif; bersedia dan mampu melakukan kegiatan kekarantinaan, antara lain melakukan pemeriksaan kapal dalam karantina baik di dermaga maupun lepas pantai dengan menggunakan tangga tali atau tangga biasa, atau melakukan pemeriksaan kesehatan pesawat penumpang dan barang di bandar udara, serta melakukan pemeriksaan kendaraan darat dan orang lintas negara di Pos Lintas Batas Darat Negara (PLBDN); karyawan dituntut untuk bugar

“Sebagai ASN khususnya di KKP kelas I Makassar memang dituntut untuk tetap bugar. Selain dalam mengemban tugas sehari-hari, ada juga tugas dan fungsi kantor lainnya yang memerlukan tingkat kebugaran ekstra misalnya tugas jaga haji di Embakasi Ujung Pandang setiap tahun, piket kerja, posko kesehatan, dan lain-lain,” kata dia menerangkan.

Dengan tes kebugaran ini, Darmawali berharap seluruh ASN di KKP kelas I Makassar bisa mengetahui tingkat kebugaran dan kesehatannya.

Sehingga pimpinan dapat mengatur jenis aktivitas fisik yang harus dilakukan dengan intensitas dan durasi yang sesuai dengan tingkat kebugarannya, serta tangguh dan prima dalam cegah tangkal untuk mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan di pintu gerbang negara.

“Tugas moril seorang atasan adalah dengan memerhatikan kesehatan semua staf di jajarannya,” katanya.

“Seorang atasan punya tanggung jawab jika ada staf yang mempunyai kondisi kesehatan dan kebugaran yang kurang baik yang disebabkan karena pekerjaannya. Ayo hidup sehat, mulai dari kita,” kata dia menegaskan.